Selasa, 29 Januari 2013

November Rain Part 1

Halooooo. 

Rasanya sudah berpuluh-puluh tahun gue gak ngaktifin ini blog hahahaha .

Gimana enggak, gue sibuk dengan dunia perkuliahan yg baru aja gue rasain hehehe .
Segala macam kegiatan mulai dari yg diadakan pihak kampus dan senior mesti gue lakuin . Tapi tenang semua kegiatannya menyenangkan :') .

Okedeh gak usah buang waktu gue pengen mempersembahkan mahakarya #lebay gue nih, gak tau namanya cerpen, cerjang atau apalah . Intinya ini yg pengen gue share .


Intip yuuuuuk :D




November .

Apa yg akan terpikirkan saat kamu mendengar November? Hari Pahlawan? Ulangtahun seseorang? Atau yang tak ada apa-apa?

Kalau aku , yg aku tahu adalah Hujan . Ya , November Rain .



“Hai Ndi !” sapa seseorang dari belakang . “Oh hai juga bang Eca .” balasku singkat .
Dia Eca, Mario Escada Rodrego seniorku di kampus . Kami beda jurusan tapi satu Fakultas . Perkenalkan aku Indi, Indira Regithania Putri . Aku mahasiswi jurusan Akuntansi  angkatan 2012 , ya aku memang MaBa . Bang Eca sapaan akrabku selalu jengkel tiap aku panggil begitu . Maklum saja nama telenovelanya yg selalu ia banggakan seperti laki-laki jadi-jadian kupanggil menurutnya.

“Ah kamu mah kebiasaan nama bagus aku malah dipanggil Eca .” katanya . “Hihihihi gak apa-apa kali bang keren hahahaha.” Tawaku pecah . “Kok tumben bang dateng pagi?” Tanyaku serius . “Buat kamu dong Indi hahahaha .” Balasnya yang langsung berlari dikoridor kampus .
“Bang Eca ya dasar.” gumamku dalam hati . Hari ini hari pertama di bulan November, ya November Rain. Benar saja , tak lama langit mendung dan hujan pun turun . Hujan rintik-rintik , seperti berlari kecil memanggilku untuk bermain . Aku yg datang jauh lebih pagi dari biasanya duduk di tempat duduk panjang yg memang disediakan pihak kampus untuk menunggu masuk kelas pada saat kuliah . Kuambil iPodku dan mulai memutar alunan indah Instrumental Piano First Love milik Utada Hikaru . Denting demi denting piano yg mengalun dengan lembut membuat suasana hatiku makin larut dalam kegalauan . Tiba-tiba bayangan masa lalu silih berganti berlarian di otakku . Aku termenung, mengingat semua kejadian itu . Semua , ya termasuk kisahku bersama First Love ku , Jordy , Jordy Daniel Sitompul .

Entah kenapa aku harus mengingatnya lagi, mengingat kejadian yg seharusnya aku buang jauh-jauh dari pikiranku . Setiap hujan, yg aku ingat kenangan bersamanya . Hujan yg membuat kami kenal satu dengan yg lain, hujan yang menjadi saksi kami mengenal perasaan satu dengan yang lain , dan hujan pulalah yg merekam perpisahan kami . Hujan dan Jordy seperti satu paket  dalam otakku , mereka tak dapat dipisahkan walau aku mencobanya .

“Cieee temen gue lagi galau yaa? Sampe Semarang nangis gini hahaha”. Seseorang berkata seraya merangkulku dari belakang. “Ah elo mah Re ngagetin gue aja, ganggu suasana hati gue lo ah .” jawabku ket us yang kemudian melepaskan iPodku . Renatha, dia sahabatku dari SMP dan kami satu jurusan di dunia perkuliahan ini, dia tau segala sesuatu tentang aku , semuanya termasuk Jordy .  Kami berkuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Semarang . Kami berdua dari Jakarta dan jadi anak perantauan disini.
“Udahlah Ndi, gue tau kok lo pasti lagi mikirin Jordy . Inget dia udah lewat, lo sendiri yg bilang mau move on kan Ndi? Kalo tiap ujan lo inget dia , mending gak usah ada ujan aja sekalian .” katanya sambil menghampiri tempat dudukku .

“Eh tapi nanti makhluk hidup pada mati ya kalo gak ujan , jangan deh tetep ujan aja Ndi.” Sambungnya . “Hahahaha Rere sedeng lo ye, lo yg ngasih saran lo juga yg bingung.” Jawabku mengejek .
Dia sahabat terbaikku , dan kelakuan anehnya yang memberi saran dan bingung pada sarannya sendiri hampir setiap hari jadi makananku , jadi aku sudah tak asing lagi .
“Engga kok Re, gue udah gak galau lagi . Tadi cuman termenung aja sedikit , termenung kenapa gue harus stuck di masa lalu yg gak akan bisa gue rubah . Dan sekarang gue tahu bahwa gue harus merubah diri gue sendiri biar gue bahagia kan .” Kataku yg sok bijak sambil berdiri dan menatap langit yg sudah mulai bersinar lagi .

“Hihihihi gitu dong Ndi, yuk ah masuk kelas, nanti kita dapet paling belakang lagi”. Ajak sahabatku sambil menggenggam tanganku . “Iya Re gue harus kuat, walau gue tahu gue gak akan ngejalaninnya dengan mudah” . gumamku dalam hati .


“ Yo kamu suke mbe cah wedok sing kuwi, sopo jenenge Didi? Atau sopo to?” Tanya Dito saat dikantin sambil menunjuk ke arah Indi . “Heh heh jok ditunjuk koyo ngono toh To, iyo aku seneng mbe cah kuwi , namanya Indi . Jurusan Akuntansi 2012.” Jawab Mario sambil terus memandangi Indi . “Oalah cah kuwi toh sing sering kowe ceritani mbek aku , MaBa sisan . Yowis nek suka langsung tembak to, wedi nek engko dadi pacare wong toh Yo .” Saran Dito yg asal ceplos . “Belum waktunya To, gue masih takut sama perasaan gue sendiri . Gue takut dia nolak dan ninggalin gue, dia udah sama gue dari kita masih SMA dulu . Kalau udh terlalu deket dan dia tau perasaan gue , gue takut dia ngejauhin gue To .” jawab Mario sambil termenung melihat gelasnya yg tinggal setengah terisi oleh susu cokelat dingin . Lalu ia segera membayar ke ibu kantin dan pergi meninggalkan Dito, saat ia melewati meja Indi , ia hanya tersenyum kecil .

 Matakuliah keduaku  hampir dimulai , dan aku baru ingat bahwa aku harus mengumpulkan tugas dari dosen kemarin lusa yg belum sempat aku kumpulkan karena sakit . Dosen tersebut memaklumi dan memintaku  untuk mengumpulkannya hari ini . Aku langsung berlari menuju ruang dosen tanpa mengajak Rere. Sesampainya di ruang dosen aku tidak menemukan Pak Budi, lalu aku bertanya pada seorang dosen di dekat meja pak Budi dan aku mengetahui bahwa pak Budi sedang mengajar di ruang C301 untuk angkatan 2011 dan 2010 .

“Mati gue senior.” Gumamku dalam hati . Saat tiba didepan ruang C301 aku menarik napas dan mulai mengetuk dan ada suara dari dalam ruangan yg mempersilahkan diriku untuk masuk . Lalu aku masuk kedalam kelas sambil menunduk ke tempat duduk pak Budi . Aku ditanyai beberapa pertanyaan lalu pak Budi mempersilahkannya keluar . Saat aku keluar, aku terkejut melihat satu sosok . Sosok yg hangat dan sangat aku rindukan . Ia duduk di bangku tengah sedang mencatat sesuatu dan tak memperhatikanku.  

Sosok yg pernah membuatku tersenyum bahagia dan mengangis merana, Jordy . 








Tunggu kelanjutannya di postingan selanjutnya ya hahaha :D 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar